Secercah Optimisme Bangsa di Bidang Pendidikan
Senyum sumringah terus menghiasi wajah Pangus Ho (18), Irwan Ade Putra (16), dan empat rekannya saat mereka menginjakkan kaki di Bandara Soekarno- Hatta, Cengkareng, Senin (1/5). Tak ubahnya pahlawan yang pulang dari medan perang, mereka tiba di Tanah Air dengan membawa kabar gembira.
Sekjen Depdiknas Dodi Nandika yang menyambut mereka dengan kalungan karangan bunga langsung berujar, “Indonesia belum habis, tetap bersinar, dan kalian adalah harapan bangsa.”
Dalam suasana penyambutan yang tak formal, Dodi tak henti- hentinya mengulang ucapan tadi sebagai ungkapan rasa bangga atas prestasi yang diukir anak-anak bangsa dalam Olimpiade Fisika Asia di Almaty, Kazakhstan, tanggal 22-29 April lalu. Dari sekitar 150 pelajar dari 18 negara yang datang mengadu kecerdasan dan ketelatenan dalam ajang itu, pelajar Indonesia membuktikan bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya mampu berdiri dengan kepala tegak di antara bangsa-bangsa lain.
Dua pelajar meraih emas, yaitu Pangus Ho (SMA Kristen 3 Penabur Jakarta) dan Irwan Ade Putra (SMA Negeri 1 Pekanbaru). Peraih perak Jonathan Pradana Mailoa (SMA Kristen 1 Penabur Jakarta). Adapun tiga peraih perunggu adalah Andy Octavian Latief (SMA Negeri 1 Pamekasan), Muhammad Firmansyah Kasim (SMP Athira Makassar), dan Rudy Handoko (SMP I Sutomo Medan).
Sejumlah guru, rekan-rekan, dan orangtua mereka yang turut menyambut di ruang VIP turut mengelu-elukan mereka, termasuk ayah-ibu Firmansyah, Muhammad Kasim dan Farida, yang sengaja datang dari Makassar untuk menyambut kedatangan mereka.
Berita gembira yang diembuskan anak-anak remaja tersebut datang bertepatan ketika bangsa ini menyongsong Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei. Daripada Hari Pendidikan Nasional berlalu begitu saja dengan hanya diisi upacara dan pidato-pidato pejabat terkait, ada baiknya momentum tersebut diisi sedikit perenungan bahwa bidang pendidikan tak pernah kering akan optimisme.
Di tengah sulitnya bidang-bidang lain menghela bangsa ini bangkit dari keterpurukan, bidang pendidikan lagi-lagi memberi secercah harapan.
Bukankah tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, yang tanggal lahirnya (2 Mei 1884) dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional, memang menegaskan bahwa hanya dengan pendidikan bangsa ini akan tercerahkan dan terbebaskan dari keterbelakangan. Misi Ki Hajar Dewantara yang teraktualisasikan melalui pendirian Perguruan Taman Siswa tahun 1922, sepertinya senantiasa relevan dengan situasi kekinian.
“Prestasi olahraga bisa saja terpuruk, ekonomi sulit bangkit, tapi dalam hal adu nalar, kami tak mau kalah,” ujar Pangus, seraya meniatkan medali yang diraihnya ini sebagai kado Hardiknas bagi bangsa Indonesia.
Prestasi anak-anak remaja tersebut kali ini memang belum mematahkan dominasi China dalam kancah “adu otak” fisika yang pada ajang kali ini memborong delapan emas. Namun, paling tidak, Indonesia tetap jadi saingan terberat dari Negeri Tirai Bambu, yang memang lekat dengan sebutan Macan Asia untuk segala bidang kompetisi. Saingan terberat lainnya adalah Taiwan, negeri yang dari sisi fighting spirit (semangat tempur) setali tiga uang dengan China.
Mencermati prestasi anak- anak Indonesia dalam kancah olimpiade fisika, sebetulnya Indonesia tak hanya disegani dalam skala Asia. Dalam Olimpiade Fisika Internasional pun, pelajar-pelajar Indonesia tidak pernah bergeser dari lima besar dunia, setidaknya dari segi nilai “karat” raihan emas. Dalam Olimpiade Fisika Internasional 2004 di Pohang, Korea, meski Indonesia hanya meraih satu emas lewat tangan Yudhistira Virgus, namun nilai emas dari siswa SMA Xaverius 1 Palembang (kini kuliah di ITB) ketika itu hanya berada di bawah Belarusia, China, Iran, dan Kanada.
Tahun 2005, dalam Olimpiade Fisika Internasional di Salamanca, Spanyol, Andika Putra Jew meraih emas dengan nilai 48,3, terpaut beberapa nilai nol koma di bawah peraih emas Taiwan, China, dan Rusia.
Pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia Yohanes Surya mengakui, keberhasilan merebut medali emas dalam setiap ajang olimpiade fisika berskala Asia dan internasional, memang tidak serta-merta jadi tolok ukur keberhasilan pendidikan di Tanah Air secara menyeluruh. Namun, setidaknya itu membuktikan bahwa bangsa ini tak selamanya harus menjadi pecundang dalam persaingan global.










Written by oktasihotang | dibaca : 1840 kali